Minggu, 06 November 2011

Plasmodium

VEKTOR MALARIA
PLASMODIUM




Disusun untuk memenuhi tugas parasitologi II
Dosen Pengampu: dr. Warni Sutrisno

Kelompok 3:
Paul Daniel                (A 101.14.035)
Popy Fany A.             (A 101.14.036)
Ria Komariah            (A 101.14.038)
Rian Indra W            (A 101.14.039)
Sagitha Mitasari        (A 101.14.044)


AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2011



BAB I
PENDAHULUAN

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa. Protozoa yang menginfeksi tersebut  merupakan golongan Plasmodium. Proses penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles. Protozoa parasit jenis ini banyak sekali tersebar di wilayah tropik, misalnya di Amerika, Asia dan Afrika.
Ada empat tipe plasmodium parasit yang dapat menginfeksi manusia,yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae.  Pplasmodium  yang seringkali ditemui pada kasus penyakit malaria adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.
Malaria merupakan penyakit protozoa dari genus Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.
      Vektor malaria adalah nyamuk Anopheles. Namun tidak semua jenis nyamuk  Anopheles dapat menjadi vektor malaria.
      Di indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh unit kerja Serangga Vektor Penyakit menemukan 46 jenis nyamuk Anopheles dan dari jumlah tersebut hanya 20 spesies yang merupakan vektor malaria (Anonim,1985).
Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah. Pasien yang terinfeksi oleh malaria akan menunjukan gejala awal menyerupai penyakit influenza, namun bila tidak diobati maka dapat terjadi komplikasi yang berujung pada kematian.
Penyakit malaria  terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles. Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.
Berdasarkan data di dunia, penyakit malaria membunuh satu anak setiap 30 detik. Sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya. 90% kematian terjadi di Afrika, terutama pada anak-anak.




BAB II
ISI

A.Epidemiologi
            Organisasi dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41% populasi dunia dapat terinfeksi malaria. Setiap tahun terdapat 300-500 juta penderita mengalami penyakit serius dan sekurang-kurangnya 1-2.7 juta diantaranya meninggal karena malaria. Malaria tersebar di 100 negara miskin di daerah tropis dan subtropis seperti india, amerika selatan dan tengah, afghanistan, sri lanka, thailand, indonesia, vietnam, kamboja, cina,filipina, meksiko, dan afrika. 

B. Taksonomi

Kingdom: Protista
Filum     : Apicomplexa
Kelas     : Aconoidasida
Ordo      : Haemosporida
Famili    : Plasmodiidae
Genus   : Plasmodium
Spesies:  plasmodium vivax, plasmodium falciparum, plasmodium ovale, plasmodium malariae
      Ada 4 jenis malaria yang menginfeksi manusia:
  1. Plasmodium falciparum à malaria tropica
  2. Plasmodium vivax à malaria tertiana
  3. Plasmodium malariae à malaria quartana
  4. Plasmodium ovale à malaria ovale
Diperkirakan,
      55% terinfeksi Plasmodium vivax (iklim sedang).
      40% terinfeksi Plasmodium falciparum (iklim tropis dan subtropis).
      1-5% terinfeksi Plasmodium malariae (iklim tropis).
      <1% terinfeksi Plasmodium ovale. 

C. Beberapa bentuk manifestasi penyakit malaria

- Malaria tertiana, disebabkan oleh Plasmodium vivax, menyebabkan penderita akan merasakan demam muncul setiap hari ketiga.
- Malaria quartana, disebabkan oleh Plasmodium malariae, penderita akan merasakan demam setiap hari keempat.
- Malaria serebral, disebabkan oleh Plasmodium falciparum, penderita akan mengalami demam tidak teratur dengan disertai gejala terserangnya bagian otak, bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak.
- Malaria pernisiosa, disebabkan oleh Plasmodium vivax, gejala dapat timbul sangat mendadak, mirip Stroke , koma disertai gejala malaria yang berat.

D. Siklus hidup
Fase seksual (schizogoni) dari plasmodium terjadi pada tubuh intermediet host. Sedangkan fase aseksual (sporogoni) terjadi pada tubuh nyamuk. Bentuk infektif dari plasmodium ini adalah stadium sporozoit. Masa inkubasi normal antara 7-30 hari. Pada Plasmodium falciparum masa inkubasi lebih panjang. Sedangkan pada Plasmodium malariae masa inkubasinya lebih singkat. Plasmodium ini dapat menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles sp dan juga melalui suntikan, transfusi, dan transplasenta.
1.      Fase sporogoni
Di dalam tubuh nyamuk ini terlihat Plasmodium melakukan reproduksi secara seksual. Pada tubuh nyamuk, spora berubah menjadi makrogamet dan mikrogamet, kemudian bersatu dan membentuk zigot yang menembus dinding usus nyamuk. Di dalam dinding usus tersebut zigot akan berubah menjadi ookinetàookistaàsporozoit, kemudian bergerak menuju kelenjar liur nyamuk. Sporozoit ini akan menghasilkan spora seksual yang akan masuk dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
2.      Fase schizogoni
Setelah tubuh manusia terkena gigitan nyamuk malaria, sporozoit masuk dalam darah manusia dan menuju ke sel-sel hati. Di dalam hati ini sporozoit akan membelah dan membentuk merozoit, akibatnya sel-sel hati banyak yang rusak. Selanjutnya, merozoit akan menyerang atau menginfeksi eritrosit. Di dalam eritrosit, merozoit akan membelah diri dan menghasilkan lebih banyak merozoit. Dengan demikian, ia akan menyerang atau menginfeksi pada eritrosit lainnya yang menyebabkan eritrosit menjadi rusak, pecah, dan mengeluarkan merozoit baru. Pada saat inilah dikeluarkan racun dari dalam tubuh manusia sehingga menyebabkan tubuh manusia menjadi demam. Merozoit ini dapat juga membentuk gametosit apabila terisap oleh nyamuk (pada saat menggigit) sehingga siklusnya akan terulang lagi dalam tubuh nyamuk, demikian seterusnya.

E. Gejala malaria
 Biasanya berlangsung 6-10 jam dan terdiri dari tiga tingkatan (CDC,2004c), yaitu:
  1. Tingkatan dingin (chilling).
Merupakan dingin yang penuh sensasi, badan penderita sampai gemetar.
  1. Tingkatan panas (hot).
Biasanya terjadi demam, sakit kepala, dan muntah.
  1. Tingkatan berkeringat (sweating).
Pada fase ini penderita berkeringat, kemudian kembali ke suhu normal, dan kelelahan.
Secara umum penderita malaria dapat menunjukkan kombinasi dari gejala-gejala malaria. Untuk Plasmodium falciparum dapat pula melibatkan penyakit kuning, pembesaran hati, dan peningkatan kecepatan pernapasan.

F. Penegakan Diagnosa
Untuk menegakkan diagnosa adanya parasit ini, dapat dilakukan pembuatan preparat apusan darah. Kemudian mengamati morfologi eritrosit dengan mikroskop.
      Pada preparat darah tepi akan tampak
Ø   Plasmodium falciparum
            Eritrosit tidak membesar, kromatin ganda, sitoplasma tipis.
Ø  Plasmodium vivax
            Eritrosit membesar,  kromatin 1 buah besar, sitoplasma tebal.

G. Tanda-tanda dan Gejala penyakit malaria
  1. Tanda Penyakit Malaria dimulai dengan dingin dan sering sakit kepala. Penderita penyakit malaria menggigil atau gemetar selama 15 menit sampai satu jam.
  2. Dingin diikuti demam dengan suhu 40 derajat atau lebih. Penderita penyakit malaria lemah, kulitnya kemerahan dan menggigau. Demam berakhir serelah beberapa jam.
  3. Penderita penyakit malaria mulai berkeringat dan suhunya menurun. Setelah serangan itu berakhir, penderita merasa lemah tetapi keadaannya tidak mengkhawatirkan.


BAB III
PENUTUP

 Untuk mengurangi penyebaran tak terkendali dari penyakit ini, dapat dilakukan pencegahan penyakit malaria dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, atau upaya pencegahan dengan pemberian obat anti malaria bila mengunjungi daerah endemik malaria.Pencegahan  ini dapat dilakukan terhadap ketiga faktor:
a)      Manusia (sebagai hospes)
      Pendidikan  kesehatan tentang pencegahan dan pengenalan malaria.
      Pemberian fasilitas untuk kesembuhan penderita malaria.
      Menggunakan obat anti nyamuk(reppelent) atau kelambu.
      Meminum profilaksis jika bepergian ke daerah endemik malaria.

b)      Plasmodium (sebagai agen)
      Pemberian obat-obatan seperti:
  1. Kina
  2. Cloroquine
  3. Primaquine
  4. Fansidar
  5. Mefloquine
  6. Proguanil
  7. Tetracylin
c)      Anopheles (sebagai vektor)
      Membasmi larva: pemberian larvasida (malariol).
      Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
      Menghilangkan penampungan yang berpotensi sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
      Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunakan insektisida.




DAFTAR PUSTAKA

Sembel, Dance T. 2009. Entomologi kedokteran. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
Sandjaja, Berdardus. 2007. Parasitologi Kedokteran. Protozoologi Kedokteran. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.





Balantidium coli

CILIATA

Balantidium coli



 

 
Dosen pengampu : Suwarni Sutrisno,dr
Nama kelompok :
1.      Putri Diana G.                         A.101.14.037
2.      Wijna Perbawati                      A.101.14.055
3.      Winahyu yuliastri                    A.101.14.056
4.      Yuniana                                   A.101.14.059
5.      Yuriska                                    A.101.14.60

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

Balantidium coli merupakan protozoa usus manusia yang terbesar dan satu-satunya golongan ciliata manusia yang patogen, menimbulkan balantidiasis atau ciliate dysentri. Organisme ini dijumpai pada daerah tropis dan juga daerah sub-tropis. Pada dasarnya protozoa ini berparasit pada babi, sedangkan strain yang ada, beradaptasi terhadap hospes definitif lainnya termasuk orang.
Penyakit zoonosis yang sumber utamanya adalah babi sebagai reservoir host, hidup di dalam usus besar manusia, babi dan kera. B.coli  dalam siklus hidupnya memiliki 2 stadium, yaitu stadium tropozoit dan kista. Lingkaran hidup B.coli dan E.histolitica sama, hanya saja bentuk kista dari B.coli tidak dapat membelah diri sebagaimana layaknya  E.histolitica.
Protozoa B. coli hidup dalam caecum dan colon manusia, babi, marmot, tikus dan hewan mamalia lainnya. Parasit ini tidak langsung dapat menular dari hospes satu ke lainnya, tetapi perlu beberapa waktu untuk menyesuaikan diri supaya dapat bersimbiosis dengan dengan flora yang ada dalam hospes tersebut. Bilamana sudah beradaptasi pada suatu hospes, protozoa akan berubah menjadi patogen terutama pada manusia. Pada mamalia lain kecuali jenis primata, organisme tersebut tidak menimbulkan lesi apapun, tetapi akan menjadi patogen bilamana mukosa terjadi kerusakan oleh penyebab lain (infeksi sekunder).

Trophozoit akan memperbanyak diri dengan pembelahan. Konjugasi hanya terjadi pada pemupukan buatan, secara alamiah jarang terjadi konjugasi.
Fase cyste terjadi pada waktu inaktif dari parasit dan tidak terjadi reproduksi secara sexual ataupun asexual. Precyste terjadi setelah keluar melalui feses yang merupakan faktor yang penting dari epidemiologi penyakit. Infeksi terjadi bila cyste termakan oleh hospes yang biasanya terjadi karena kontaminasi makanan dan minuman. Balantiudium coli biasanya mati pada pH 5,0; infeksi terjadi bila orang mengalami kondisi yang buruk seperti malnutrisi dengan perut dalam kondisi mengandung asam lemah.


BAB II
ISI

A.    Klasifikasi
Domain:
Kingdom:
Superphylum:
Phylum:
Class:
Order:
Family:
Genus:
Species:
B. coli


B.     Morfologi

Genus balantidium mempunyai satu spesies yaitu Balantidium coli adalah protozoa yang terbesar pada manusia dan hewan. Parasit ini mempunyai dua tipehidup yaitu bentuk vegetatif dan bentuk kista. Parait ini ditemukan diseluruh dunia yang beriklim subtropik dan tropik , tetapi frekuensinya rendah.
Hospes parasit ini adalah babi dan beberapa spesies kera yang hidup di daerah tropik. Tapi kadang – kadang parasit ini ditemukan pada manusia dan meyebabkan kerugian karena dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit.
Bentuk vegetatif adalah lonjong, besarnya 60 – 70 mikron atau lebar tubuhnya 30 – 100 mikron dan lebar 30- 80 mikron. Pada bagian anterior yang agak menyempit, terdapat sitostom yang berfungsi sebagai mulut.bagian posterior bentuknya agak melebar, pada daerah ini ditemukan sitoping ( cytopyge ) yan berfungsi sebagai alat pengeluaran zat – zat yang tidak diperlukan lagi. Pada seluruh tubuhnya terdapat bulu getar atau cilium. Cilium itu tersusun dalam baris – baris longitudinal.  Pada sitostom terdapat bulu getar yang agak panjang . Fungsi bulu getar ialah untuk bergerak dan mengambil makanan. Di sitoplasma terdapat dua buah inti yang khas yaitu Mempunyai inti dua tipe yaitu inti jenis makronukleus dan mikronukleus yang berbentuk ginjal dan satu mikronukleus kecil bulat. Selain inti ditemukan juga 1 – 2 buah vakuol kontraktil dan banyak vakuol makanan.
Pada balantidium yang berbentuk kista, bentuk tubuhnya lonjong dan berdinding tebal dan berlapis dua dan diantar dua lapisan dinding tersebut terdapat cilia namun dapat menghilang bila dalam bentuk yang matang. Dan berukuran 45 – 65 mikron. Bentuk kista hanya mempunyai makronukleus, kista yang hidup masih mempunyai bulu getar yang masih bergerak. 

Gambar morfologi kista Balantidium coli
Gambar morfologi Tropozoit Balantidium coli
 

C.    Siklus Hidup
Protozoa genus Balantidium  merupakan protozoa yang  yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Protozoa ini merupakan protozoa yang terbesar. Habitat parasit ini adalah didalam usus besar pada hewan dan manusia. Balantidium Kista hidup didalam tinja dapat hidup 1 – 2 hari pada suhu kamar. Parasit ini hidup di selaput lendir usus  besar terutama di daera sekum. Bentuk kista ini adalah bentuk infektif. Bila bentuk kista tertelan terjadi ekskistasi di dinding usus halus. Dari satu keluar satu bentuk vegetatif  yang segera berkembangbiak dan membentuk koloni di selaput lendir usus besar. Setelah itu balantidium berkembang dan dewasa lalu bertelur. Bentuk kista dan bentuk vegetatif keluar bersama tinja hospes. Trafozoit dapat menembus dinding usus dan ikut mengalir bersama aliran darah menuju organ – organ lain misalnya ke pulmo ( paru – paru ), liver dan enchephalon ( otak ). Lalu memperbanyak diri di ekstraintestinal. Lalu membentuk sista infektif dan megeluarkannya bersama feses.



D.    Reproduksi

Bentuk vegetatif selain bentuk yang masih makan, juga merupakan bentuk yang berfungsi untuk berkembangbiak dengan cara belah transversal. Mula – mula mikronukleus yang membelah diikuti oleh makronukleus dan sitoplasma sehingga menjadi dua organisme yang baru. Kadang – kadang tampak pertukaran kromatin ( konjugasi ). Reproduksi berlangsung seksual dan aseksual.
Perkembang biakan secara aseksual yaitu dengan belah pasang, yaitu dengan membelah jadi dua parasit yang sama bentuknya. Hanya terjadi bila situasi kurang menguntungkan. Misalnya tidak ada pejantan.
Perkembangbiakan secara seksual terjadi pada pembiakan ini dibantuk sel kelamin, yaitu makrogametositdan mikrogametosit yang kemudian membelah membentuk makrogamet dan mikrogamet. Setelah pembuahan menjadi zigot. Inti zigot membelah  menjadi banyak yang disebut sporozoit. Proses ini disebut sporogoni.

 

E.     Epidemiologi

Parasit ini banyak ditemukan pada babi yang dipelihara ( yang berkisar antara 60 – 90%). Penularan antar babisatu ke babi yang lainnya mudah terjadi, sekali – sekali dapat menular pada manusia ( zoonosis).
Penularan pada manusia terjadi dari tangan ke mulut atau melalui makanan yang terkontaminasi, misalnya pada orang yang memelihara babi dan yang membersihkan kandang babi ; bila tangan ini terkontaminasi dengan tinja babi yang mengandung bentuk kista dan kista ini tertelan, maka terjadilah infeksi. Kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya penularan.
F.     Patogenesis dan Gejala Kliniks

Penyakit yang ditimbulkan oleh balantidium coli hampir irip dengan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba Histolytica. Di selaput lendir usus besar, bentuk vegetatif membentuk abses- abses kecil yang kemudian pecah. manjadi ulkus yang menggaung. Penyakit ini dapat berlangsung akut dengan ulkus merata pada selaput lendir usus besar. Pada kasus berat, ulkus ini dapat menjadi gangrenyang berakibat fatal. Biasanya disertai dengan sindrom disentri. Penyakit dapat menjadi menahun dengan diare yang di sertai konstipasi, sakit perut, tidak nafsu makan, muntah, dan kakeksia ( cachexia ). Infeksi ringan Balantidium coli biasanya idak menampakkan gejala, bila parasit hidup dirongga usus besar.
Balantidium coli kadang – kadang dapat menimbulkan infeksi eksterintestinal, misalnya dapat menyebabkan peritonitis dan uretritis. Pernah ditemukan bahwa Balantidium coli di hepar dan pulmo. Bahkan di ekuador Balantidium coli ditemukan sebagai sindrom disentris  dan abses hepar.
Balantidiasis
1.      Identifikasi
Protozoa yang menginfeksi usus besar dan menyebabkan diare atau disenteri diikuti dengan kolik abdominal, tenesmus, nausea dan muntah-muntah. Biasanya disenteri disebabkan oleh amebiasis, dengan kotoran yang berisi banyak darah dan lendir tapi sedikit pus. Invasi ke peritoneum atau saluran urogenital jarang terjadi.
Diagnosa dibuat dengan menemukan trofozoit dari parasit atau kista dari balantidium coli pada kotoran segar, atau trofozoit ditemukan melalui sigmoidoskopi.
2.      Penyebab penyakit.
Balantidium coli, protozoa besar dengan silia.
3.       Distribusi penyakit.
Tersebar di seluruh dunia, infeksi pada manusia jarang terjadi namun wabah yang bersifat “water borne” biasa terjadi pada daerah yang sanitasi lingkungannya sangat buruk. Kontaminasi lingkungan dengan tinja dapat mengakibatkan peningkatan jumlah kasus. Wabah besar pernah terjadi di Equador pada tahun 1978.
4.      Reservoir.
Babi, kemungkinan juga hewan lain, seperti tikus dan primata selain manusia.
5.      Cara Penularan.
Dengan menelan kista yang berasal dari kotoran inang yang terinfeksi; pada saat wabah, penularan terutama melalui air yang terkontaminasi. Penularan sporadis terjadi karena masuknya kotoran ke mulut melalui tangan atau melalui air, dan makanan yang terkontaminasi.
6.      Masa Inkubasi.
Tidak diketahui, mungkin hanya beberapa hari.
7.      Masa Penularan : Selama infeksi.
8.      Kerentanan dan Kekebalan.
Sebagian besar orang sepertinya memiliki kekebalan alami. Orang dengan keadaan umum yang jelek karena suatu penyakit sebelumnya, bila terinfeksi oleh parasit ini akan menjadi serius bahkan fatal.
9.      Cara Cara Pemberantasan.
A.   Cara Pencegahan :
1)      Beri penyuluhan pada masyarakat tentang higiene perorangan.
2)      Beri penyuluhan dan bimbingan kepada penjamah makanan melalui instansi kesehatan.
3)      Pembuangan kotoran pada jamban yang memenuhi persyaratan sanitasi.
4)      Kurangi kontak dengan kotoran babi.
5)      Lindungi tempat penampungan/sumber air untuk masyarakat dari kontaminasi kotoran babi. Filter pasir/tanah dapat menyaring semua kista, klorinasi air dengan cara yang biasanya dilakukan tidak menghancurkan kista. Air dalam jumlah sedikit untuk diminum lebih baik dimasak.
B.   Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya :
1)      Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporan resmi tidak diperlukan, Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2)      Isolasi : tidak dilakukan.
3)      Disinfeksi serentak : pembuangan kotoran yang saniter.
4)       Karantina : tidak dilakukan.
5)      Imunisasi : tidak dilakukan
6)      Investigasi kontak dan sumber infeksi : pemeriksaan mikroskopis tinja dari anggota rumah tangga dan kontak yang dicurigai. Lakukan investigasi terhadap mereka yang kontak dengan babi; bila perlu berikan tetrasiklin pada babi yang terinfeksi.
7)      Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dapat menghilangkan infeksi; pengobatan dengan metronidazole (Flagyl) juga efektif .


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

balantidium coli merupakan protozoa usus terbesar dan satu-satunya golongan ciliata manusia yang patogen. Balantidium coli menyebabkan penyakit balantidiasis. Penyakit ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui adanya kontak, terutama dengan hewan babi.
Gejala klinik dari balantidiasis adalah diare dengan konstipasi, tidak nafsu makan, muntah, cachexia. Terkadang juga dapat menyebabkan gangguan ekstra intestinal, urethritis dan peritonitis
Diagnosisnya dengan cara ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja encer dan kista dalam tinja padat.

B.     Saran
·           Untuk mengurangi penyakit balantidiasis, kita dianjurkan untuk menghindari kontak dengan hewan, terutama babi.
·           Menjaga kebersihan hewan ternak.
·           Sesudah kontak dengan hewan, hendaknya melakukan hygiene diri.
·           Tutup makanan atau minuman supaya tidak tercemar kotoran binatang atau kotoran manusia yang mengandung parasit.



DAFTAR PUSTAKA

http://analisbanjarmasin.blogspot.com/2010/09/ciliata-balantidium-coli.html
http://ilmu-epidemiologi.blogspot.com/2008/11/balantidium.html
Soejoto, soebari.1996.Parasitologi Medik Jilid 1 Protozologi dan helmintologi.Solo:Akademi Analis Kesehatan Nasional