Minggu, 06 November 2011

Balantidium coli

CILIATA

Balantidium coli



 

 
Dosen pengampu : Suwarni Sutrisno,dr
Nama kelompok :
1.      Putri Diana G.                         A.101.14.037
2.      Wijna Perbawati                      A.101.14.055
3.      Winahyu yuliastri                    A.101.14.056
4.      Yuniana                                   A.101.14.059
5.      Yuriska                                    A.101.14.60

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

Balantidium coli merupakan protozoa usus manusia yang terbesar dan satu-satunya golongan ciliata manusia yang patogen, menimbulkan balantidiasis atau ciliate dysentri. Organisme ini dijumpai pada daerah tropis dan juga daerah sub-tropis. Pada dasarnya protozoa ini berparasit pada babi, sedangkan strain yang ada, beradaptasi terhadap hospes definitif lainnya termasuk orang.
Penyakit zoonosis yang sumber utamanya adalah babi sebagai reservoir host, hidup di dalam usus besar manusia, babi dan kera. B.coli  dalam siklus hidupnya memiliki 2 stadium, yaitu stadium tropozoit dan kista. Lingkaran hidup B.coli dan E.histolitica sama, hanya saja bentuk kista dari B.coli tidak dapat membelah diri sebagaimana layaknya  E.histolitica.
Protozoa B. coli hidup dalam caecum dan colon manusia, babi, marmot, tikus dan hewan mamalia lainnya. Parasit ini tidak langsung dapat menular dari hospes satu ke lainnya, tetapi perlu beberapa waktu untuk menyesuaikan diri supaya dapat bersimbiosis dengan dengan flora yang ada dalam hospes tersebut. Bilamana sudah beradaptasi pada suatu hospes, protozoa akan berubah menjadi patogen terutama pada manusia. Pada mamalia lain kecuali jenis primata, organisme tersebut tidak menimbulkan lesi apapun, tetapi akan menjadi patogen bilamana mukosa terjadi kerusakan oleh penyebab lain (infeksi sekunder).

Trophozoit akan memperbanyak diri dengan pembelahan. Konjugasi hanya terjadi pada pemupukan buatan, secara alamiah jarang terjadi konjugasi.
Fase cyste terjadi pada waktu inaktif dari parasit dan tidak terjadi reproduksi secara sexual ataupun asexual. Precyste terjadi setelah keluar melalui feses yang merupakan faktor yang penting dari epidemiologi penyakit. Infeksi terjadi bila cyste termakan oleh hospes yang biasanya terjadi karena kontaminasi makanan dan minuman. Balantiudium coli biasanya mati pada pH 5,0; infeksi terjadi bila orang mengalami kondisi yang buruk seperti malnutrisi dengan perut dalam kondisi mengandung asam lemah.


BAB II
ISI

A.    Klasifikasi
Domain:
Kingdom:
Superphylum:
Phylum:
Class:
Order:
Family:
Genus:
Species:
B. coli


B.     Morfologi

Genus balantidium mempunyai satu spesies yaitu Balantidium coli adalah protozoa yang terbesar pada manusia dan hewan. Parasit ini mempunyai dua tipehidup yaitu bentuk vegetatif dan bentuk kista. Parait ini ditemukan diseluruh dunia yang beriklim subtropik dan tropik , tetapi frekuensinya rendah.
Hospes parasit ini adalah babi dan beberapa spesies kera yang hidup di daerah tropik. Tapi kadang – kadang parasit ini ditemukan pada manusia dan meyebabkan kerugian karena dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit.
Bentuk vegetatif adalah lonjong, besarnya 60 – 70 mikron atau lebar tubuhnya 30 – 100 mikron dan lebar 30- 80 mikron. Pada bagian anterior yang agak menyempit, terdapat sitostom yang berfungsi sebagai mulut.bagian posterior bentuknya agak melebar, pada daerah ini ditemukan sitoping ( cytopyge ) yan berfungsi sebagai alat pengeluaran zat – zat yang tidak diperlukan lagi. Pada seluruh tubuhnya terdapat bulu getar atau cilium. Cilium itu tersusun dalam baris – baris longitudinal.  Pada sitostom terdapat bulu getar yang agak panjang . Fungsi bulu getar ialah untuk bergerak dan mengambil makanan. Di sitoplasma terdapat dua buah inti yang khas yaitu Mempunyai inti dua tipe yaitu inti jenis makronukleus dan mikronukleus yang berbentuk ginjal dan satu mikronukleus kecil bulat. Selain inti ditemukan juga 1 – 2 buah vakuol kontraktil dan banyak vakuol makanan.
Pada balantidium yang berbentuk kista, bentuk tubuhnya lonjong dan berdinding tebal dan berlapis dua dan diantar dua lapisan dinding tersebut terdapat cilia namun dapat menghilang bila dalam bentuk yang matang. Dan berukuran 45 – 65 mikron. Bentuk kista hanya mempunyai makronukleus, kista yang hidup masih mempunyai bulu getar yang masih bergerak. 

Gambar morfologi kista Balantidium coli
Gambar morfologi Tropozoit Balantidium coli
 

C.    Siklus Hidup
Protozoa genus Balantidium  merupakan protozoa yang  yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Protozoa ini merupakan protozoa yang terbesar. Habitat parasit ini adalah didalam usus besar pada hewan dan manusia. Balantidium Kista hidup didalam tinja dapat hidup 1 – 2 hari pada suhu kamar. Parasit ini hidup di selaput lendir usus  besar terutama di daera sekum. Bentuk kista ini adalah bentuk infektif. Bila bentuk kista tertelan terjadi ekskistasi di dinding usus halus. Dari satu keluar satu bentuk vegetatif  yang segera berkembangbiak dan membentuk koloni di selaput lendir usus besar. Setelah itu balantidium berkembang dan dewasa lalu bertelur. Bentuk kista dan bentuk vegetatif keluar bersama tinja hospes. Trafozoit dapat menembus dinding usus dan ikut mengalir bersama aliran darah menuju organ – organ lain misalnya ke pulmo ( paru – paru ), liver dan enchephalon ( otak ). Lalu memperbanyak diri di ekstraintestinal. Lalu membentuk sista infektif dan megeluarkannya bersama feses.



D.    Reproduksi

Bentuk vegetatif selain bentuk yang masih makan, juga merupakan bentuk yang berfungsi untuk berkembangbiak dengan cara belah transversal. Mula – mula mikronukleus yang membelah diikuti oleh makronukleus dan sitoplasma sehingga menjadi dua organisme yang baru. Kadang – kadang tampak pertukaran kromatin ( konjugasi ). Reproduksi berlangsung seksual dan aseksual.
Perkembang biakan secara aseksual yaitu dengan belah pasang, yaitu dengan membelah jadi dua parasit yang sama bentuknya. Hanya terjadi bila situasi kurang menguntungkan. Misalnya tidak ada pejantan.
Perkembangbiakan secara seksual terjadi pada pembiakan ini dibantuk sel kelamin, yaitu makrogametositdan mikrogametosit yang kemudian membelah membentuk makrogamet dan mikrogamet. Setelah pembuahan menjadi zigot. Inti zigot membelah  menjadi banyak yang disebut sporozoit. Proses ini disebut sporogoni.

 

E.     Epidemiologi

Parasit ini banyak ditemukan pada babi yang dipelihara ( yang berkisar antara 60 – 90%). Penularan antar babisatu ke babi yang lainnya mudah terjadi, sekali – sekali dapat menular pada manusia ( zoonosis).
Penularan pada manusia terjadi dari tangan ke mulut atau melalui makanan yang terkontaminasi, misalnya pada orang yang memelihara babi dan yang membersihkan kandang babi ; bila tangan ini terkontaminasi dengan tinja babi yang mengandung bentuk kista dan kista ini tertelan, maka terjadilah infeksi. Kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya penularan.
F.     Patogenesis dan Gejala Kliniks

Penyakit yang ditimbulkan oleh balantidium coli hampir irip dengan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba Histolytica. Di selaput lendir usus besar, bentuk vegetatif membentuk abses- abses kecil yang kemudian pecah. manjadi ulkus yang menggaung. Penyakit ini dapat berlangsung akut dengan ulkus merata pada selaput lendir usus besar. Pada kasus berat, ulkus ini dapat menjadi gangrenyang berakibat fatal. Biasanya disertai dengan sindrom disentri. Penyakit dapat menjadi menahun dengan diare yang di sertai konstipasi, sakit perut, tidak nafsu makan, muntah, dan kakeksia ( cachexia ). Infeksi ringan Balantidium coli biasanya idak menampakkan gejala, bila parasit hidup dirongga usus besar.
Balantidium coli kadang – kadang dapat menimbulkan infeksi eksterintestinal, misalnya dapat menyebabkan peritonitis dan uretritis. Pernah ditemukan bahwa Balantidium coli di hepar dan pulmo. Bahkan di ekuador Balantidium coli ditemukan sebagai sindrom disentris  dan abses hepar.
Balantidiasis
1.      Identifikasi
Protozoa yang menginfeksi usus besar dan menyebabkan diare atau disenteri diikuti dengan kolik abdominal, tenesmus, nausea dan muntah-muntah. Biasanya disenteri disebabkan oleh amebiasis, dengan kotoran yang berisi banyak darah dan lendir tapi sedikit pus. Invasi ke peritoneum atau saluran urogenital jarang terjadi.
Diagnosa dibuat dengan menemukan trofozoit dari parasit atau kista dari balantidium coli pada kotoran segar, atau trofozoit ditemukan melalui sigmoidoskopi.
2.      Penyebab penyakit.
Balantidium coli, protozoa besar dengan silia.
3.       Distribusi penyakit.
Tersebar di seluruh dunia, infeksi pada manusia jarang terjadi namun wabah yang bersifat “water borne” biasa terjadi pada daerah yang sanitasi lingkungannya sangat buruk. Kontaminasi lingkungan dengan tinja dapat mengakibatkan peningkatan jumlah kasus. Wabah besar pernah terjadi di Equador pada tahun 1978.
4.      Reservoir.
Babi, kemungkinan juga hewan lain, seperti tikus dan primata selain manusia.
5.      Cara Penularan.
Dengan menelan kista yang berasal dari kotoran inang yang terinfeksi; pada saat wabah, penularan terutama melalui air yang terkontaminasi. Penularan sporadis terjadi karena masuknya kotoran ke mulut melalui tangan atau melalui air, dan makanan yang terkontaminasi.
6.      Masa Inkubasi.
Tidak diketahui, mungkin hanya beberapa hari.
7.      Masa Penularan : Selama infeksi.
8.      Kerentanan dan Kekebalan.
Sebagian besar orang sepertinya memiliki kekebalan alami. Orang dengan keadaan umum yang jelek karena suatu penyakit sebelumnya, bila terinfeksi oleh parasit ini akan menjadi serius bahkan fatal.
9.      Cara Cara Pemberantasan.
A.   Cara Pencegahan :
1)      Beri penyuluhan pada masyarakat tentang higiene perorangan.
2)      Beri penyuluhan dan bimbingan kepada penjamah makanan melalui instansi kesehatan.
3)      Pembuangan kotoran pada jamban yang memenuhi persyaratan sanitasi.
4)      Kurangi kontak dengan kotoran babi.
5)      Lindungi tempat penampungan/sumber air untuk masyarakat dari kontaminasi kotoran babi. Filter pasir/tanah dapat menyaring semua kista, klorinasi air dengan cara yang biasanya dilakukan tidak menghancurkan kista. Air dalam jumlah sedikit untuk diminum lebih baik dimasak.
B.   Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya :
1)      Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporan resmi tidak diperlukan, Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2)      Isolasi : tidak dilakukan.
3)      Disinfeksi serentak : pembuangan kotoran yang saniter.
4)       Karantina : tidak dilakukan.
5)      Imunisasi : tidak dilakukan
6)      Investigasi kontak dan sumber infeksi : pemeriksaan mikroskopis tinja dari anggota rumah tangga dan kontak yang dicurigai. Lakukan investigasi terhadap mereka yang kontak dengan babi; bila perlu berikan tetrasiklin pada babi yang terinfeksi.
7)      Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dapat menghilangkan infeksi; pengobatan dengan metronidazole (Flagyl) juga efektif .


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

balantidium coli merupakan protozoa usus terbesar dan satu-satunya golongan ciliata manusia yang patogen. Balantidium coli menyebabkan penyakit balantidiasis. Penyakit ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui adanya kontak, terutama dengan hewan babi.
Gejala klinik dari balantidiasis adalah diare dengan konstipasi, tidak nafsu makan, muntah, cachexia. Terkadang juga dapat menyebabkan gangguan ekstra intestinal, urethritis dan peritonitis
Diagnosisnya dengan cara ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja encer dan kista dalam tinja padat.

B.     Saran
·           Untuk mengurangi penyakit balantidiasis, kita dianjurkan untuk menghindari kontak dengan hewan, terutama babi.
·           Menjaga kebersihan hewan ternak.
·           Sesudah kontak dengan hewan, hendaknya melakukan hygiene diri.
·           Tutup makanan atau minuman supaya tidak tercemar kotoran binatang atau kotoran manusia yang mengandung parasit.



DAFTAR PUSTAKA

http://analisbanjarmasin.blogspot.com/2010/09/ciliata-balantidium-coli.html
http://ilmu-epidemiologi.blogspot.com/2008/11/balantidium.html
Soejoto, soebari.1996.Parasitologi Medik Jilid 1 Protozologi dan helmintologi.Solo:Akademi Analis Kesehatan Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar